Kerusuhan Demo DPR Usai Massa AMPB Pati Ditarik: Siapa Penyusup di Senayan?
Gelombang aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, berakhir dengan pecahnya kerusuhan demo DPR usai massa AMPB Pati ditarik mundur oleh pimpinannya. Eskalasi bentrokan yang membakar kawasan Pejompongan hingga Palmerah sepanjang Kamis (27/8/2026) hingga Jumat dini hari ini menyisakan pertanyaan besar: siapa sebenarnya aktor yang menunggangi aksi damai masyarakat tersebut?
Awalnya, ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dipimpin oleh Supriyono alias Mas Botok memadati kompleks Parlemen. Kedatangan rombongan lintas daerah ini membawa misi tegas, yakni mengawal penyelesaian RUU Perampasan Aset dan penegakan hukum bagi koruptor. Setelah perwakilan AMPB berhasil beraudiensi dengan pimpinan DPR dan mengantongi komitmen tertulis, Botok menginstruksikan seluruh anggotanya untuk membubarkan diri secara tertib pada Kamis siang. Namun, kepergian rombongan asal Jawa Tengah ini justru menjadi titik awal pecahnya kerusuhan demo DPR usai massa AMPB Pati ditarik dari lokasi.
Pembubaran Massa AMPB dan Komitmen Damai
Keputusan membubarkan diri diambil AMPB untuk menjaga integritas perjuangan warga daerah. “Sesuai komitmen awal AMPB datang ke Jakarta tidak ada niatan untuk membuat kerusuhan tapi kami datang ke Jakarta mengawal aspirasi rakyat Indonesia dengan cara damai, santun, dan sopan,” ujar Supriyono alias Botok mengonfirmasi penarikan pasukannya. Ia menegaskan tidak ingin nama baik Kabupaten Pati tercemar oleh aksi provokatif yang mulai bermunculan di sekitar lokasi.
Langkah antisipatif Botok terbukti beralasan. Tak lama setelah armada bus massa AMPB meninggalkan Jalan Gatot Subroto, situasi di luar pagar Parlemen memanas secara dramatis. Kelompok massa tak dikenal—sebagian besar mengenakan pakaian hitam-hitam—mulai mengambil alih barisan depan, menggoyangkan pagar gedung, hingga melempar batu, petasan, dan botol kaca ke arah petugas pengamanan.
Kronologi Pecahnya Bentrokan hingga Dini Hari
Aparat kepolisian terpaksa menembakkan water cannon serta gas air mata untuk meredam eskalasi massa perusuh. Gesekan yang awalnya terkonsentrasi di depan gerbang utama DPR meluas hingga ke kawasan Stasiun Palmerah, Pejompongan, dan Jalan Tol Dalam Kota. Sejumlah fasilitas publik, kamera CCTV pemprov, hingga separator jalan rusak parah akibat aksi perusakan dan pembakaran.
Polda Metro Jaya menegaskan bahwa kelompok yang berbuat anarkis hingga Jumat pagi tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan elemen massa asal Pati. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengungkapkan pihaknya mengidentifikasi adanya penyusupan dari kelompok tertentu. “Saudara Supriyono alias Botok dan massa AMPB datang menyampaikan aspirasi secara damai. Kelompok perusuh yang melakukan perusakan fasilitas umum di Pejompongan dan sekitarnya berbeda dengan massa aksi utama,” ungkap Budi Hermanto dalam keterangan persnya. Polisi juga mencatat puluhan pemuda diduga dari elemen anarcho-syndicalism telah diamankan karena membawa bahan peledak improvisasi dan menyebarkan ajakan provokatif di media sosial sebelum aksi dimulai.
Taktik Menunggangi Isu dan Celah Keamanan
Mengapa kerusuhan demo DPR usai massa AMPB Pati ditarik bisa meletus begitu cepat? Terdapat beberapa indikasi kuat yang dapat dianalisis dari dinamika di lapangan:
- Pemanfaatan ‘Vakum Massa’ sebagai Tameng: Kelompok perusuh oportunis kerap menggunakan pergerakan massa besar seperti AMPB sebagai screen atau tameng legitimasi. Ketika massa substansial (warga Pati) mundur, kelompok perusuh kehilangan ‘pelindung sosial’ mereka sehingga aksi kekerasan langsung terkesan mendominasi.
- Mekanisme Mobilisasi Anomim: Berbeda dengan AMPB yang memiliki struktur komando jelas di bawah Botok, kelompok penunggang bergerak secara seluler tanpa koordinator tunggal. Mereka memanfaatkan kepulan asap dan situasi riuh di media sosial untuk menciptakan chaos demi agenda tertentu.
- Disparitas Tuntutan: Kerusuhan ini memperlihatkan pemisahan tegas antara pengawal isu substansial (RUU Perampasan Aset) dan elemen destruktif yang hanya menginginkan bentrokan fisik dengan aparat keamanan.
Aksi penarikan diri oleh pimpinan AMPB merupakan langkah taktis cerdas yang berhasil melucuti narasi bahwa warga Pati bertindak anarkis di ibu kota. Meski demikian, rentetan perusakan fasilitas publik pascadeimobilisasi massa Pati menggarisbawahi tantangan besar kepolisian dalam mendeteksi infiltrasi penyusup dalam setiap aksi penyampaian pendapat di muka umum.
Sumber Berita
- TribunJatim.com | Tak Mau Terseret Kericuhan, Botok Tarik Massa AMPB dari Depan DPR: Kami Tak Mau Nama Pati Rusak | 28 Agustus 2026
- MerahPutih.com | Massa Sempat Ricuh Mas Botok Pati Masuk Mobil Polisi di DPR | 25 Agustus 2026
- WartaKota (Tribunnews) | Alasan Warga Pati Tinggalkan DPR RI Saat Massa Masih Berkumpul di DPR RI | 28 Agustus 2026
- Detik.com | Botok Pati dkk Kecewa Ketua DPR Tak Temui Massa Aksi, Puan Bilang Begini | 27 Agustus 2026
